Maumere, NTT · 26 October 2026 1 online · 57 hari ini
Terbaru
Opini

Pengaruh Pendapatan Petani Pascaerupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kecamatan Wulanggitang Kabupaten Flores Timur

Redaksi  ·   ·  219 dibaca
Pengaruh Pendapatan Petani Pascaerupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kecamatan Wulanggitang Kabupaten Flores Timur

HARIAN FLORES.COM, FLORES TIMUR – Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki tidak hanya mengubah kehidupan masyarakat di sekitar gunung, tetapi juga mengganggu sumber penghidupan para petani di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Abu vulkanik yang menyelimuti lahan pertanian, gagal panen, serta pengungsian yang berkepanjangan membuat sebagian petani kesulitan kembali menjalankan aktivitas mereka seperti sediakala.

Bagi masyarakat Wulanggitang, bertani dan berkebun merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Jagung, padi ladang, dan singkong menjadi sumber pangan keluarga, sementara kakao, kemiri, kelapa, serta jambu mete menjadi hasil kebun yang dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ketika erupsi terjadi, aktivitas pertanian ikut terhenti dan penghasilan keluarga pun terganggu.

Erupsi yang terjadi sejak akhir 2023 dan kembali meningkat pada 2024 menyebabkan abu serta material vulkanik menjangkau kawasan permukiman dan lahan pertanian.

Sejumlah warga harus meninggalkan rumah dan tinggal di tempat pengungsian. Kondisi tersebut membuat petani tidak leluasa mengunjungi kebun untuk membersihkan lahan, merawat tanaman, maupun memanen hasil pertanian.

Kerusakan lahan menjadi salah satu persoalan yang paling dirasakan masyarakat. Tanaman pangan seperti jagung dan padi dilaporkan mengalami kerusakan setelah terkena abu dan material panas. Petani pun menghadapi gagal panen dan kesulitan memulai penanaman kembali. Situasi ini semakin berat ketika kondisi cuaca tidak mendukung dan curah hujan rendah.

Tanaman perkebunan yang selama ini menjadi sumber pemasukan keluarga juga ikut terdampak. Abu vulkanik dan kondisi lingkungan yang berubah dapat mengganggu pertumbuhan tanaman serta proses pembentukan buah.

Akibatnya, hasil kebun yang biasanya dijual untuk memperoleh uang tunai menjadi berkurang. Ketika hasil panen menurun, petani harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak dan kebutuhan sehari-hari.

Dampak erupsi juga dirasakan oleh warga yang memiliki usaha sampingan. Pengungsian dan kerusakan lingkungan membuat kegiatan ekonomi di sekitar tempat tinggal tidak berjalan normal.

Sebagian warga kehilangan kesempatan untuk bekerja atau menjalankan usaha seperti sebelumnya. Dengan demikian, persoalan yang dihadapi masyarakat bukan hanya kehilangan hasil pertanian, melainkan juga terganggunya berbagai sumber pendapatan keluarga.

Pemerintah daerah telah memberikan bantuan pangan dan benih kepada masyarakat terdampak. Bantuan tersebut membantu memenuhi kebutuhan mendesak dan mendukung petani yang berada di wilayah aman untuk kembali menanam. Namun, bantuan sementara belum sepenuhnya menggantikan penghasilan yang hilang selama lahan belum dapat dikelola secara normal.

Pemulihan kehidupan petani membutuhkan perhatian yang berkelanjutan. Selain bantuan kebutuhan pokok, masyarakat memerlukan pendampingan untuk memulihkan lahan, dukungan benih yang sesuai dengan kondisi tanah, serta akses terhadap modal usaha. Petani yang belum dapat kembali mengolah kebunnya juga membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan sumber penghasilan alternatif.

Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki menjadi pengingat bahwa bencana alam dapat membawa dampak panjang bagi kehidupan ekonomi masyarakat. Bagi petani Wulanggitang, pulihnya keadaan tidak hanya berarti dapat kembali ke rumah, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengolah lahan, memanen hasil kebun, dan membangun kembali penghidupan keluarga. Karena itu, pemulihan perlu diarahkan agar masyarakat dapat kembali mandiri dan menjalan.

Oleh: Rosalia Anseliani Odi Atasoge Mahasiswa NIM (242314013), Program Studi Ekonomi, Fakultas Bisnis dan Ekonomi, Universitas Sanata Dharma

Bagikan: