Amatus Ergo Sum (Saya Dikasihi Maka Saya Ada)
HARIAN FLORES. COM, -
“Jauh sebelum aku mengenali diriku, kasih telah lebih dahulu menghendaki keberadaanku. Eksistensiku bukanlah awal dari segala sesuatu, melainkan buah dari kasih yang mendahului segala kesadaranku.”
Cogito Ergo Sum Vs Amatus Ergo Sum
Gagasan amatus ergo sum (saya dikasihi, maka saya ada) tidak dimaksudkan sebagai slogan tandingan terhadap cogito ergo sum René Descartes, tetapi sebagai undangan untuk memperluas refleksi tentang eksistensi manusia. Jika Descartes menemukan kepastian keberadaan subjek melalui aktivitas berpikir, tulisan ini hendak menelusuri dimensi lain dari keberadaan manusia, yakni kenyataan bahwa hidup tidak sepenuhnya bersumber dari dirinya sendiri. Manusia memang berpikir, menyadari, dan menentukan arah kehidupannya, tetapi ia juga menerima kehidupan yang tidak diciptakannya, bertumbuh melalui relasi yang tidak seluruhnya dipilihnya, dan menemukan makna dirinya dalam pengalaman menerima kasih.
René Descartes menggunakan keraguan metodis untuk menemukan dasar pengetahuan yang tidak dapat diragukan. Ia meragukan segala sesuatu yang mungkin mengandung kesalahan, termasuk kesaksian indra dan kenyataan yang dialaminya. Namun, di tengah keraguan tersebut, Descartes menemukan satu kepastian yang tidak dapat disangkal. Ketika seseorang meragukan, ia sedang berpikir. Sebaliknya, ketika ia berpikir, keberadaannya tidak dapat disangkal. Dari sinilah lahir proposisi cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada). Dalam Meditations on First Philosophy, Descartes menempatkan aktivitas berpikir sebagai jalan untuk memastikan keberadaan subjek yang berpikir (René Descartes, Meditations on First Philosophy, 1996).
Penemuan Descartes merupakan tonggak penting dalam sejarah filsafat modern karena menempatkan kesadaran subjek sebagai titik tolak pencarian kepastian. Akan tetapi, kepastian bahwa manusia ada karena berpikir belum sepenuhnya menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: dari mana keberadaan itu berasal, dan apakah manusia sungguh-sungguh menjadi dasar bagi dirinya sendiri? Bahwa saya mampu berpikir tentang keberadaan saya, tidak berarti saya menciptakan keberadaan tersebut. Kesadaran dapat mengenali kehidupan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan mengapa kehidupan itu hadir. Pikiran dapat menegaskan bahwa saya ada, tetapi tidak dapat mengubah kenyataan bahwa saya tidak pernah meminta untuk dilahirkan, tidak memilih rahim tempat saya bertumbuh, dan tidak menentukan seluruh keadaan yang memungkinkan saya menjadi diri saya hari ini.
Sebelum manusia berkata, “Aku berpikir, maka aku ada,” ia terlebih dahulu telah ada sebagai kehidupan yang tidak diciptakannya sendiri. Sebelum akal mengenali dunia, tubuh telah menghirup udara. Sebelum kesadaran mampu menyebut namanya sendiri, seseorang telah dipanggil dengan nama oleh orang lain. Sebelum manusia memahami arti kasih, ia telah berada dalam kemungkinan untuk menerima perhatian, perlindungan, dan pemeliharaan. Bahkan kemampuan untuk berpikir secara mandiri, tumbuh melalui bahasa yang diwariskan, pengetahuan yang dipelajari, dan relasi yang membentuk dirinya. Tidak ada manusia yang memulai kehidupannya dari ruang kosong, seolah-olah ia adalah pencipta tunggal bagi seluruh keberadaannya.
Di sinilah batas cogito ergo sum perlu dibaca secara kritis. Persoalannya bukan bahwa Descartes secara eksplisit menyangkal ketergantungan manusia pada Allah atau sesama. Descartes sendiri mengembangkan argumen tentang keberadaan Allah dalam sistem metafisikanya. Persoalannya terletak pada kemungkinan menjadikan kepastian subjek yang berpikir sebagai gambaran menyeluruh tentang eksistensi manusia. Ketika manusia terlalu berpusat pada kesadaran dan kemampuan individualnya, ia berisiko melupakan bahwa dirinya bukan hanya subjek yang mengetahui, melainkan juga makhluk yang menerima kehidupan. Ia bukan hanya pribadi yang mengambil keputusan, melainkan juga pribadi yang dibentuk oleh sejarah, relasi, dan keadaan yang tidak seluruhnya berada dalam kendalinya.
Atas dasar itu, amatus ergo sum (saya dikasihi, maka saya ada), diajukan bukan sebagai penolakan terhadap rasionalitas Descartes, melainkan sebagai perluasan refleksi mengenai makna eksistensi. Jika cogito ergo sum menegaskan kepastian bahwa subjek yang berpikir itu ada, amatus ergo sum mengarahkan perhatian kepada dasar relasional yang mendahului kemampuan subjek untuk mengenali dirinya. Manusia tidak menciptakan keberadaannya agar kemudian layak menerima kasih. Sebaliknya, ia menemukan bahwa kehidupannya merupakan sesuatu yang diterima, bukan sesuatu yang sepenuhnya dihasilkan oleh kehendaknya sendiri.
Kasih dalam proposisi ini bukan sekadar perasaan yang datang dan pergi, apalagi pengakuan sosial yang bergantung pada prestasi. Kasih menunjuk pada penerimaan terhadap keberadaan manusia sebagai pribadi yang bernilai, bahkan ketika ia belum menghasilkan sesuatu, ketika ia gagal memenuhi harapan, atau ketika kekuatannya perlahan-lahan menghilang. Manusia yang sakit tetap memiliki martabat. Manusia yang gagal tetap memiliki nilai. Manusia yang tidak lagi mampu memberikan banyak hal tetap tidak kehilangan haknya untuk dihormati. Jika keberadaan hanya dibenarkan oleh kemampuan, maka kelemahan akan menjadi alasan untuk meragukan nilai diri. Namun, jika keberadaan dipahami dalam horizon kasih, kelemahan justru mengingatkan manusia bahwa martabat tidak pernah identik dengan produktivitas.
Perspektif Alkitabiah dan Ajaran Gereja
Sebelum manusia mengenal nama Allah, ia telah lebih dahulu berada dalam tatapan kasih-Nya. Sebelum akal menyingkap makna kehidupan, hidup telah menjelma anugerah yang diterimanya tanpa pernah diminta. Sebelum kesadaran membawanya menyusuri pertanyaan tentang dirinya sendiri, ia telah hadir di dunia sebagai bagian dari misteri keberadaan yang tidak pernah diciptakannya sendiri.
Dalam iman Katolik, kenyataan ini menemukan dasarnya dalam kisah penciptaan. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26–27). Keberadaan manusia, dengan demikian, bukanlah hasil dari suatu keputusan sadar untuk mengadakan dirinya sendiri. Ia menerima kehidupan sebelum mampu memahaminya, sebagaimana ia menerima kemungkinan untuk mengenal dan mengasihi sebelum sungguh-sungguh menyadari dari mana kemampuan itu berasal. Ada sesuatu yang mendahului segala usaha manusia untuk menjelaskan dirinya, yaitu anugerah kehidupan yang berakar pada kehendak Sang Pencipta.
Kitab Suci menyatakan kedalaman relasi tersebut melalui sabda Allah kepada Nabi Yeremia: “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal” (Yer. 31:3). Kasih ini tidak bergantung pada kecakapan manusia dalam mengenali kehadiran Allah, apalagi pada kesempurnaannya dalam menjalani kehidupan. Rasul Yohanes menegaskan, manusia mengasihi karena Allah telah lebih dahulu mengasihinya (1Yoh. 4:19). Di sini, urutan keberadaan dan kasih memperoleh makna yang mendalam. Manusia bukanlah titik awal dari segala sesuatu yang membuatnya hidup. Ia tidak menciptakan kasih agar kemudian dapat menemukan alasan untuk menerima dirinya. Sebaliknya, ia menemukan bahwa kehidupannya telah berada dalam cakrawala kasih yang mendahuluinya. Karena itu, amatus ergo sum tidak hendak mengatakan bahwa manusia baru ada setelah seseorang mengasihinya. Ungkapan ini mengajak manusia menengok lebih jauh ke dalam dirinya dan menyadari bahwa keberadaannya bukan semata-mata hasil dari kehendak individual, melainkan anugerah yang diterima sebelum sempat diminta.
Kasih yang mendahului itu tidak tinggal sebagai gagasan yang jauh dari sejarah manusia. Dalam iman Kristiani, kasih Allah mengambil rupa manusiawi dalam diri Yesus Kristus. Rasul Paulus menulis, Allah menunjukkan kasih-Nya ketika Kristus wafat bagi manusia yang masih berdosa (Rm. 5:8). Salib menjadi tempat ketika kasih tidak lagi sekadar diucapkan, tetapi diserahkan. Kristus tidak menunggu manusia menjadi sempurna untuk menghampirinya. Ia memasuki kerapuhan manusia, menanggung penderitaan, dan menyerahkan diri demi keselamatannya. Dalam terang salib, manusia menemukan bahwa kelemahan tidak serta-merta menghapus martabat, sebagaimana kegagalan tidak dengan sendirinya menutup kemungkinan untuk dikasihi. Kasih Allah tidak menyangkal kenyataan dosa dan penderitaan, tetapi menjumpai manusia justru di tengah kenyataan tersebut. Di sinilah eksistensi memperoleh kedalaman yang tidak dapat ditangkap hanya melalui kepastian rasional. Manusia bukan hanya pribadi yang mampu menyadari bahwa dirinya ada, melainkan juga pribadi yang hidup dari kasih yang tidak sepenuhnya berasal dari dirinya sendiri.
Pandangan ini berakar kuat dalam ajaran Gereja Katolik mengenai martabat manusia. Katekismus Gereja Katolik menegaskan, manusia diciptakan menurut gambar Allah dan dipanggil untuk mengenal serta mengasihi Penciptanya (KGK: 55–356). Sementara itu, Konsili Vatikan II, melalui Gaudium et Spes, menyatakan bahwa manusia merupakan satu-satunya makhluk di dunia yang dikehendaki Allah demi dirinya sendiri (GS: 24). Pernyataan tersebut menyingkapkan sesuatu yang kerap dilupakan ketika manusia dinilai berdasarkan kegunaan dan pencapaiannya. Pribadi manusia tidak pernah boleh direduksi menjadi alat bagi tujuan di luar dirinya. Ia bukan sekadar tenaga yang dihitung berdasarkan produktivitas, kecerdasan yang diukur melalui prestasi, atau keberadaan yang baru diakui ketika mampu memenuhi harapan orang lain. Manusia tetap bermartabat ketika tubuhnya melemah, ketika pikirannya tidak lagi setajam dulu, ketika pekerjaan tidak menghasilkan sesuatu yang membanggakan, bahkan ketika ia tidak lagi mampu membalas kebaikan yang diterimanya. Ada nilai dalam diri manusia yang tidak ikut runtuh bersama hilangnya kemampuan. Martabat itu tidak lahir dari tepuk tangan dunia dan tidak lenyap ketika dunia berpaling darinya.
Agustinus dalam Horizon Amatus Ergo Sum
Pemikiran Santo Agustinus memberikan landasan teologis yang mendalam bagi gagasan amatus ergo sum. Jika René Descartes menemukan kepastian eksistensi melalui aktivitas berpikir, Agustinus mengarahkan manusia untuk memasuki kedalaman batinnya dan menemukan bahwa pencarian akan diri tidak dapat dipisahkan dari pencarian akan Allah. Bagi Agustinus, manusia bukanlah subjek yang berdiri sendiri dalam kepenuhan dirinya, melainkan makhluk yang menyimpan kerinduan mendalam akan Sang Pencipta. Kerinduan tersebut mengungkapkan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya menjadi sumber bagi dirinya sendiri. Ia mencari, bertanya, dan berusaha memahami keberadaannya karena di dalam dirinya terdapat keterbukaan terhadap sesuatu yang melampaui dirinya. Eksistensi manusia, dengan demikian, bukan hanya persoalan kepastian bahwa dirinya ada, melainkan juga persoalan dari mana ia berasal, kepada siapa ia mengarahkan hidupnya, dan dalam kasih siapa ia menemukan kepenuhan dirinya.
Dalam Confessiones, Agustinus membuka refleksinya dengan sebuah pengakuan yang terkenal: “Engkau telah menciptakan kami bagi diri-Mu, dan hati kami tidak akan tenang sebelum beristirahat dalam Engkau” (Augustine, Confessiones, 1991). Pengakuan ini tidak sekadar menggambarkan kegelisahan psikologis manusia, tetapi mengungkapkan struktur terdalam eksistensinya. Hati manusia tidak menemukan kepenuhan hanya dengan mengandalkan kemampuan berpikir, mengumpulkan pengetahuan, atau menguasai dunia. Semua itu memiliki nilai, tetapi tidak dengan sendirinya menjawab kerinduan manusia akan makna dan kepenuhan hidup. Ada kegelisahan yang tetap tinggal sekalipun manusia telah memperoleh apa yang dikejarnya. Bagi Agustinus, kegelisahan tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki orientasi yang melampaui dirinya sendiri. Ia berasal dari Allah dan menemukan kepenuhan terakhirnya dalam relasi dengan Allah. Dalam horizon ini, amatus ergo sum memperoleh kedalaman teologis. Manusia dapat menerima keberadaannya sebagai anugerah karena ia tidak pernah menjadi pencipta tunggal bagi dirinya sendiri.
Penutup
Pada akhirnya, amatus ergo sum mengajak manusia untuk memandang keberadaannya sebagai sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kesadaran akan diri. Hidup bukan semata-mata hasil kehendak atau pencapaian pribadi, melainkan anugerah yang mengandung makna dan tanggung jawab. Menyadari bahwa diri dikasihi berarti belajar menerima kerapuhan, menghargai kehidupan, dan membuka diri terhadap sesama. Kasih tidak hanya menjadi alasan bagi manusia untuk menyadari keberadaannya, tetapi juga menjadi panggilan untuk menjalani kehidupan secara lebih manusiawi. Manusia menemukan makna terdalam keberadaannya bukan hanya ketika ia menyadari bahwa dirinya ada, melainkan ketika ia menyadari bahwa hidupnya bermakna dan layak dibagikan kepada sesama.
Pankrasius Tevin Lory
(Mahasiswa Magister Filsafat IFTK Ledalero)