DARI ONTOLOGI KE PRAKSIS : KASIH YANG TIDAK BERHENTI SEBAGAI KATA
HARIAN FLORES. COM, -
Ada hukum yang tidak diukir di atas loh batu, melainkan di dalam keberadaan itu sendiri. Tradisi iman Kristiani merumuskan dalam ungkapan yang sangat padat: Allah adalah Kasih. Pernyataan ini bukanlah pujian moral bahwa Allah itu baik hati, melainkan pernyataan ontologis tentang siapa Allah. Jika hakikat Allah adalah kasih, maka kasih bukanlah salah satu keutamaan tambahan. Kasih adalah fondasi, cara berada, dan sumber dari segala yang ada.
Pemahaman ini mengubah total cara kita melihat hukum. Kita biasanya mengerti hukum sebagai batas, larangan, dan kontrol. Hukum kasih dalam Injil justru bekerja sebaliknya. Ia bukan membatasi hidup, melainkan menyempurnakannya. Ketika kasih sungguh hadir, ia dengan sendirinya membuat orang tidak mencuri, tidak membunuh, tidak memfitnah, dan tidak menindas. Kasih bukan sekadar pelengkap hukum, melainkan jiwa yang membuat seluruh hukum menjadi bermakna. Tanpa kasih, hukum hanya menjadi alat kekuasaan. Dengan kasih, hukum menjadi jalan keselamatan.
Secara filosofis, manusia adalah makhluk yang selalu mencari kepenuhan. Kita sering mencoba memenuhinya dengan karya, status, harta, atau pengakuan dari orang lain. Namun semua itu terbatas, rapuh, dan sementara. Filsafat eksistensial mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang selalu melampaui dirinya sendiri. Ia tidak akan pernah puas jika hanya berputar pada dirinya. Ia membutuhkan Yang Tak Terbatas. Karena itu, mengasihi Allah lebih dari segala sesuatu bukanlah tindakan yang anti-manusia. Justru itulah tindakan yang paling manusiawi. Dengan mengarahkan hati kepada Yang Maha Segala, manusia dibebaskan dari penyembahan terhadap berhala-berhala kecil seperti kuasa, gengsi, dan kepentingan diri.
Namun kasih yang autentik tidak pernah berhenti pada relasi vertikal yang privat dan saleh. Ia harus menjelma dalam relasi horizontal yang konkret. Di sinilah Kitab Suci bersuara dengan sangat radikal. Allah memperkenalkan diri bukan hanya sebagai Yang Mahakuasa, tetapi sebagai penjaga mereka yang tidak punya penjaga. Jeritan janda, yatim, orang asing, difabel, dan mereka yang lemah adalah suara yang langsung sampai ke hati Allah. Bahasa yang keras dalam Kitab Keluaran tentang pembelaan terhadap mereka bukanlah ungkapan kemarahan ilahi, melainkan penegasan profetis: martabat orang kecil adalah batas kudus yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun.
Dalam bahasa teologi masa kini, inilah yang disebut keberpihakan pada yang miskin, _option for the poor_. Bukan berarti Allah tidak mengasihi yang kaya dan kuat. Tetapi dalam struktur dunia yang timpang, yang kecil dan lemah selalu menjadi korban pertama dari logika persaingan dan akumulasi. Dunia yang kehilangan kasih akan dengan mudah menjadi arena saling menindas dan saling memangsa. Yang kuat akan melindas yang lemah. Hukum kasih hadir bukan sebagai belas kasihan musiman, melainkan sebagai koreksi struktural yang menuntut pertobatan cara berpikir dan cara menata hidup bersama.
Inti dari koreksi itu adalah kenosis. Kata Yunani ini berarti pengosongan diri, perendahan diri secara sadar. Inilah logika terbalik dari logika dunia. Dunia mengajarkan untuk menaikkan gunung: gunung kesombongan, gunung kesewenangan, gunung prestise. Kasih mengajarkan untuk merendahkannya. Merendahkan gunung kesombongan bukan berarti merendahkan martabat diri, melainkan memulihkan martabat bersama. Hanya ketika seseorang berani turun dari egonya, ia baru mampu melihat wajah sesamanya secara setara. Kerendahan hati dalam arti ini bukanlah kelemahan karakter, melainkan kekuatan etis tertinggi. Ia memutus rantai kekerasan dan membuka ruang bagi rekonsiliasi.
Dimensi lain yang sering dilupakan adalah dimensi ekologis. Jika dunia diciptakan oleh kasih, maka dunia pada dasarnya baik dan indah. Keindahan tanah Riung Barat, perbukitan Bajawa, dan laut Flores bukanlah kebetulan kosong, melainkan jejak kasih Allah yang agung. Satu pekan ini pemandangan padang dan kebun sepanjang jalan dari Lindi ke Bajawa diwarnai dengan asap hitam dan bara api. Entah karena motif apapun, sesungguhnya tindakan mengelola alam mestinya mempertimbangkan nilai-nilai moral ekologi. Ketika manusia merusak alam dengan serakah, mengeksploitasi tanpa batas, dan menjadikan ciptaan hanya sebagai alat keuntungan, itu adalah tanda krisis kasih. Mengasihi sesama manusia tidak dapat dipisahkan dari mengasihi bumi sebagai rumah bersama. Kasih kepada Pencipta harus tercermin dalam cara kita merawat ciptaan.
Kita pun harus jujur mengakui keterbatasan kita. Manusia mudah lelah, mudah marah, mudah menyimpan luka dan dendam. Gambaran tentang kasih yang sabar, murah hati, tidak memegahkan diri, tidak mencari keuntungan sendiri, dan tidak menyimpan kesalahan orang lain bukanlah daftar untuk membuat kita merasa bersalah. Itu adalah cermin yang menunjukkan bahwa kita membutuhkan sumber kasih yang lebih besar dari diri kita sendiri. Kita tidak bisa menghasilkan kasih yang sempurna hanya dari kekuatan moral kita yang terbatas. Kita perlu terus-menerus dicangkokkan, dimurnikan, dan dikuatkan oleh kasih ilahi yang abadi.
Oleh karena itu, hukum kasih pada akhirnya harus menjadi keputusan praktis hari ini. Bukan wacana untuk besok, bukan cita-cita ketika nanti sudah mapan atau sudah suci. Kasih menjadi nyata dalam satu uluran tangan, satu kunjungan kepada yang sakit, satu pembelaan bagi yang difitnah, satu sikap jujur dalam pekerjaan kecil. Kasih yang hanya indah di atas mimbar, tanpa menjadi roti bagi yang lapar dan suara bagi yang bisu, belum menjadi hukum yang pertama dan utama. Inilah pertobatan yang sejati: ketika teori tentang kasih berani turun menjadi etika sehari-hari yang memihak, merangkul, dan memulihkan martabat yang terluka. Kasih yang demikian tidak berhenti sebagai kata, melainkan menjadi jalan hidup.
Pertanyaan reflektif untuk kita hari ini adalah: gunung apa dalam diri saya yang perlu saya runtuhkan, agar martabat sesama yang hina dina dapat saya angkat kembali?
Oleh: Antonius Ndiwal, S.Fil., M.Th