Perpusda Ende Lakukan Transformasi Digital, 15 Ribu Judul Buku Masuk Platform ELIA
HARIAN FLORES.COM - ENDE -
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Perpusda) Kabupaten Ende terus melakukan transformasi digital untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan perpustakaan sekaligus mendorong peningkatan minat baca.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menghadirkan platform perpustakaan digital ELIA (Ende Library and Archive) yang mengintegrasikan layanan buku dan arsip secara digital.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Ende, Lambertus S. Sare, ST., M.Eng, mengatakan saat ini Perpusda Ende memiliki sekitar 15.000 judul buku yang koleksinya mulai diintegrasikan ke dalam platform ELIA.
Hal tersebut disampaikan Lambertus saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (5/10/2026).
“ELIA itu kita integrasikan antara buku dan arsip. Semua katalog judul buku yang ada di perpustakaan kita input di dalam ELIA, sehingga harapannya masyarakat bisa mengetahui koleksi buku yang tersedia,” ujar Lambertus.
Menurutnya, tingkat minat baca masyarakat Ende masih perlu ditingkatkan. Salah satu indikatornya dapat dilihat dari jumlah kunjungan masyarakat ke perpustakaan setiap harinya.
Lambertus menilai, salah satu faktor yang membuat masyarakat enggan datang ke perpustakaan adalah belum mengetahui koleksi buku yang tersedia dan dapat dipinjam secara gratis.
Karena itu, keberadaan ELIA diharapkan dapat mempermudah masyarakat mengetahui koleksi buku sebelum datang langsung ke perpustakaan.
Platform ELIA dapat diakses masyarakat melalui alamat elia.endekab.go.id.
Selain mengetahui katalog koleksi, masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan peminjaman buku secara gratis. Untuk menjadi anggota perpustakaan, masyarakat dapat melakukan pendaftaran secara langsung di kantor Perpusda Ende maupun secara daring melalui aplikasi ELIA.
“Caranya mudah, cukup mendaftar sebagai anggota. Syaratnya juga mudah, cukup memiliki Nomor Induk Kependudukan atau NIK,” jelasnya.
Transformasi digital tersebut mulai diikuti peningkatan jumlah masyarakat yang memanfaatkan layanan perpustakaan.
Periode Januari hingga September 2026, Perpusda Ende mencatat sebanyak 4.052 kunjungan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.332 orang datang langsung ke Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Ende, sedangkan 2.720 orang terlayani melalui Mobil Pelayanan Keliling (MPK).
Selain mengembangkan layanan digital, Perpusda Ende juga menjalankan berbagai program untuk mendekatkan layanan literasi kepada masyarakat.
Salah satunya melalui gerakan Orang Tua Peduli Literasi Anak dengan menggunakan Mobil Pelayanan Keliling.
Program tersebut menyasar sejumlah tempat, antara lain paroki-paroki dan panti asuhan. Layanan literasi juga menjangkau lingkungan pesantren dan sekolah-sekolah Islam.
Perpusda Ende juga mendorong gerakan orang tua mengantar anak ke perpustakaan. Program tersebut dijadwalkan berdasarkan daftar kunjungan yang telah disusun.
Saat ini, Perpusda Ende juga sedang melakukan survei elektronik Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) dengan responden masyarakat berusia 15 tahun ke atas.
Survei tersebut bertujuan mengetahui sejauh mana perkembangan tingkat kegemaran membaca dan kondisi literasi masyarakat di Kabupaten Ende.
Di bidang kearsipan, Perpusda Ende juga terus melakukan transformasi melalui penerapan SRIKANDI (Sistem Informasi Kearsipan Dinamis Terintegrasi).
SRIKANDI telah diluncurkan oleh Bupati Ende pada 5 Agustus 2026. Dengan penerapan sistem tersebut, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diwajibkan menggunakan SRIKANDI dalam sistem surat-menyurat dan pengelolaan arsip.
“Kami sudah melakukan pendampingan ke OPD-OPD untuk penggunaan SRIKANDI. Sekarang kami sedang intens melakukan pendampingan ke 21 kecamatan,” kata Lambertus.
Pendampingan tersebut dilakukan agar seluruh kecamatan dapat menerapkan sistem surat-menyurat berbasis digital melalui SRIKANDI.
Untuk mendukung keamanan penyimpanan arsip digital, Perpusda Ende juga menggunakan sistem penyimpanan berbasis Google Drive.
Lambertus menegaskan, pengelolaan arsip tidak hanya berkaitan dengan administrasi pemerintahan, tetapi juga penting dalam menjaga memori dan sejarah daerah.
“Arsip adalah memori daerah. Untuk itu arsip ini perlu kita tingkatkan,” ujarnya.
Menurut Lambertus, hal tersebut penting karena Ende dikenal sebagai Kota Sejarah dan Kota Rahim Pancasila. Namun, di sisi lain, masih terdapat keterbatasan arsip sejarah yang terdokumentasi dengan baik.
Karena itu, pihaknya mulai melakukan digitalisasi arsip-arsip yang berkaitan dengan sejarah Ende agar memiliki dokumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Supaya kita tidak hanya mengklaim Ende sebagai kota sejarah dan kota rahimnya Pancasila, tetapi kita memiliki arsip sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Lambertus menambahkan, seluruh program yang dijalankan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Ende mengacu pada tiga indikator utama sesuai RPJMD.
Ketiga indikator tersebut yakni Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat, Indeks Pengawasan Kearsipan, dan Akuntabilitas Kinerja. *(EB)