Maumere, NTT · 26 October 2026 0 online · 72 hari ini
Terbaru
Daerah

Kisah Icha dan Evin, Dua Bocah Perempuan di Manggarai Kehilangan Kedua Orangtua Saat Gempa Flores

Redaksi  ·   ·  62 dibaca
Kisah Icha dan Evin, Dua Bocah Perempuan di Manggarai Kehilangan Kedua Orangtua Saat Gempa Flores

HARIANFLORES.COM, RUTENG - Di bawah tenda pengungsian yang berdiri di tengah suasana pascagempa, Icha dan Evin menjalani hari-hari yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Tak ada lagi rumah yang menjadi tempat mereka pulang. Tak ada lagi sosok ayah dan ibu yang selama ini menjadi tempat berlindung dan berbagi cerita.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores meninggalkan duka mendalam bagi banyak keluarga.

Salah satunya keluarga di Dusun Welong, Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Ri'i, Kabupaten Manggarai.

Bagi Icha dan Evin, gempa itu bukan sekadar bencana yang merusak bangunan. Gempa tersebut merenggut dua sosok paling penting dalam kehidupan mereka.

Ayah mereka, Romanus Tangkar, dan ibu mereka, Yuliana Madi, menjadi korban reruntuhan bangunan ketika gempa terjadi. Keduanya meninggal dunia seketika setelah tertimpa material bangunan.

Kabar kehilangan itu membuat kehidupan keluarga besar mereka berubah dalam sekejap.

Icha dan Evin merupakan bagian dari delapan bersaudara. Dua dari saudara mereka telah berkeluarga. Kini, setelah kehilangan kedua orangtua, mereka bersama saudara-saudaranya harus menghadapi kenyataan baru, menjalani kehidupan tanpa kehadiran ayah dan ibu, sekaligus bertahan di tengah situasi pascabencana.

Rumah yang selama ini menjadi tempat berkumpul keluarga telah berubah menjadi kenangan.

Untuk sementara, Icha dan Evin tinggal di tenda pengungsian bersama warga lainnya yang juga terdampak gempa. Di tempat yang serba terbatas itu, kehidupan harus terus berjalan.

Kebutuhan makan, perlengkapan sehari-hari, kebutuhan sekolah, hingga tempat berlindung menjadi bagian dari persoalan yang harus mereka hadapi. Di tengah kehilangan yang begitu besar, mereka juga dituntut untuk tetap melanjutkan kehidupan.

Namun, di balik kesedihan itu, masih ada harapan yang coba dipertahankan.

Harapan itu salah satunya datang melalui kepedulian berbagai pihak terhadap para korban bencana. Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai bersama KAGAMA (Keluarga Alumni Gadjah Mada) hadir menyalurkan bantuan secara langsung kepada warga terdampak, termasuk keluarga Icha dan Evin.

Bantuan yang diberikan berupa sembako, peralatan sekolah, perlengkapan dapur, serta terpal untuk mendukung kebutuhan warga selama berada di pengungsian.

Bagi sebagian orang, bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana.

Namun bagi Icha, Evin, dan keluarga mereka, setiap bantuan memiliki arti yang jauh lebih besar.

Paket sembako membantu memenuhi kebutuhan makan. Peralatan dapur membantu mereka menjalani aktivitas sehari-hari di pengungsian. Terpal menjadi bagian dari kebutuhan tempat berlindung. Sementara peralatan sekolah menjadi pengingat bahwa kehidupan anak-anak harus tetap berlanjut meskipun bencana telah mengubah banyak hal.

Di tengah kehilangan kedua orangtua, perhatian seperti itu menjadi pesan bahwa mereka tidak sendirian.

Bencana memang telah mengambil banyak hal dari keluarga mereka. Namun, kepedulian dari pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak memberikan ruang bagi mereka untuk kembali mengumpulkan kekuatan.

Kehilangan Romanus dan Yuliana tentu meninggalkan luka yang tidak mudah sembuh. Tidak ada bantuan yang dapat menggantikan kehadiran seorang ayah dan ibu.

Tetapi bantuan dan perhatian dapat menjadi pijakan awal bagi keluarga yang sedang berusaha bangkit.

Di bawah tenda pengungsian, kehidupan Icha dan Evin belum kembali seperti semula. Hari-hari masih diwarnai keterbatasan dan ketidakpastian. Namun, bersama saudara-saudaranya, mereka masih menyimpan harapan.

Harapan untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Harapan agar pendidikan tetap dapat dilanjutkan.

Dan harapan untuk menata masa depan meski perjalanan itu kini harus ditempuh tanpa kehadiran kedua orangtua tercinta.

Gempa mungkin telah merenggut rumah dan orang-orang yang mereka cintai. Tetapi bencana tidak harus menjadi akhir dari segalanya.

Ada semangat untuk bertahan. Ada keluarga yang saling menguatkan. Ada masyarakat yang peduli. Dan ada tangan-tangan yang datang memberikan bantuan ketika mereka sedang berada pada titik paling sulit dalam hidup.

Di tengah kesunyian tenda pengungsian, harapan itu tetap menyala.

Kecil, tetapi cukup untuk menjadi cahaya bagi Icha, Evin, dan saudara-saudaranya untuk perlahan bangkit dan melanjutkan perjalanan hidup.

Sebab setelah bencana, yang dibutuhkan para korban bukan hanya makanan, tempat berlindung, dan perlengkapan untuk bertahan hidup. Mereka juga membutuhkan kepedulian, sebuah keyakinan bahwa di tengah kehilangan yang begitu besar, masih ada orang-orang yang bersedia berdiri bersama mereka.

Dan bagi Icha serta Evin, kepedulian itu menjadi pengingat sederhana, mereka tidak berjalan sendirian.

Sumber: manggaraikab.go.id

Bagikan: