Maumere, NTT · 26 October 2026 0 online · 72 hari ini
Terbaru
Daerah

Kemarau Panjang, Perkebunan di Ende Terancam, Tanaman Pangan Masih Relatif Aman

Redaksi  ·   ·  228 dibaca
Kemarau Panjang, Perkebunan di Ende Terancam, Tanaman Pangan Masih Relatif Aman

HARIAN FLORES.COM ENDE –
Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), memprediksi produktivitas tanaman perkebunan mengalami penurun hingga 70–80 persen akibat kemarau panjang. Sementara itu, tanaman pangan, khususnya padi pada lahan beririgasi, masih relatif aman meski sejumlah lahan mulai terancam kekeringan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Gadir H. Ibrahim Dean, SP, mengatakan dampak kekeringan terhadap tanaman perkebunan telah dirasakan sejak dua hingga tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi kemarau berkepanjangan serta sejumlah faktor lain, termasuk getaran gempa bumi dan erupsi Gunung Lewotobi.

Hal itu disampaikan Gadir saat ditemui di ruang kerjanya di Jalan Diponegoro, Kelurahan Onekore, Kecamatan Ende Tengah, Selasa (20/10/2026).

“Produktivitas tanaman perkebunan diperkirakan mengalami penurunan sekitar 70–80 persen,” kata Gadir.

Ia menjelaskan, angka tersebut masih berupa prediksi karena Dinas Pertanian belum melakukan identifikasi secara menyeluruh terhadap kondisi tanaman dan hasil panen. Penurunan produksi di sentra-sentra perkebunan dikhawatirkan berdampak terhadap pendapatan petani dan ketahanan pangan masyarakat.

Berbeda dengan tanaman perkebunan, kondisi tanaman pangan, khususnya padi irigasi, sejauh ini masih relatif aman. Dinas Pertanian belum menerima laporan resmi dari penyuluh pertanian lapangan (PPL) mengenai kegagalan panen akibat kemarau.

Menurut Gadir, sejumlah petani bahkan telah memasuki masa panen karena sebelumnya menanam padi berumur genjah atau berumur pendek sehingga tanaman dapat dipanen sebelum dampak kekeringan semakin meluas.

Meski demikian, ancaman kekeringan mulai ditemukan pada lahan pertanian di Desa Wolo Au, Kecamatan Maurole. Berdasarkan hasil koordinasi, terdapat beberapa hektare lahan yang berpotensi mengalami gagal panen jika tidak segera mendapatkan penanganan.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Gadir telah menginstruksikan bidang terkait agar menyiapkan benih dan alat mesin pertanian (alsintan), terutama pompa air, guna membantu mengalirkan air ke lahan petani.

“Kami sudah memerintahkan agar benih dan alsintan, khususnya mesin pompa air, dipersiapkan sehingga air bisa dialirkan ke lahan-lahan petani yang membutuhkan,” ujarnya.

Selain padi, kondisi tanaman hortikultura, terutama sayur-sayuran, juga masih relatif aman. Wilayah Rewarangga dan Detusoko yang menjadi penyangga pasokan hortikultura sejauh ini belum melaporkan adanya kegagalan panen akibat kemarau panjang.

Gadir mengatakan, selain Wewaria, wilayah Maurole, Maukaro, dan Kota Baru merupakan sentra produksi tanaman pangan di Kabupaten Ende. Berdasarkan pemantauan rutin setiap Jumat dan Sabtu, ketersediaan debit air di sejumlah wilayah Pantai Utara (Pantura) Ende juga masih tersedia.

Ia mengimbau petani agar terus berkoordinasi dengan PPL untuk melaporkan kondisi tanaman dan ketersediaan air di lahan masing-masing. Petani juga diminta menggunakan air secara bijaksana serta menanam pangan lokal yang dapat dimanfaatkan daun maupun umbinya untuk menjaga ketersediaan pangan keluarga selama musim kemarau.

Dinas Pertanian Kabupaten Ende akan terus memantau kondisi pertanian dan menyiapkan langkah antisipasi, terutama pada wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dan gagal panen.*(EB)

Bagikan: