Dipo Nusantara Dorong Pengurangan Sampah dari Hulu, Siapkan Mesin Pencacah untuk Kelompok Masyarakat di Ende
HARIAN FLORES.COM, ENDE – Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), H. N.M. Dipo Nusantara Pua Upa, menggandeng Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk mendorong pengurangan sampah dari sumbernya melalui sosialisasi dan pembinaan kelompok masyarakat pengelola sampah di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kegiatan yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ende serta perwakilan masyarakat dari 21 kecamatan itu berlangsung di Aula Bina Kerahiman Ende, Selasa (20/10/2026) siang.
Sosialisasi tersebut bertujuan memperkuat kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah, sekaligus mendorong pengurangan volume sampah melalui pemilahan sejak dari rumah tangga, sekolah, dan lingkungan permukiman.
Saat membuka kegiatan, Dipo Nusantara menegaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan tempat pembuangan akhir (TPA). Menurut dia, penanganan sampah harus dimulai dari sumbernya agar volume sampah yang dibuang ke TPA dapat dikurangi.
Berdasarkan data nasional yang disampaikannya, sekitar 75 persen sampah domestik di Indonesia belum terkelola dengan baik.
"Kita tidak boleh terus-menerus menyelesaikan masalah sampah ketika posisinya sudah menumpuk di hilir atau di TPA," tegas Dipo.
Ia mengatakan, salah satu langkah penting dalam mengatasi persoalan sampah adalah memperkuat pengelolaan di tingkat hulu melalui gerakan pengurangan sampah, edukasi untuk membatasi penggunaan plastik, serta pembiasaan memilah sampah sejak dari rumah tangga dan sekolah.
Selain mendorong perubahan perilaku masyarakat, Dipo menyatakan Komisi XII DPR RI mendorong Kementerian Lingkungan Hidup untuk mendukung pengolahan sampah berbasis masyarakat melalui penyediaan mesin pencacah.
"Kita akan berikan mesin pencacah kepada kelompok masyarakat yang dibentuk oleh Dinas Lingkungan Hidup. Untuk Ende, kita prioritaskan masyarakat di daerah pariwisata," ujarnya.
Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan kelompok masyarakat dalam mengolah sampah sehingga tidak hanya berakhir di tempat pembuangan, tetapi juga dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang bernilai guna.
Perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup, Hafizh Khaerudin, yang menjabat sebagai Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Madya, mengatakan sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya mengubah perilaku masyarakat agar terbiasa memilah sampah sebelum dibuang.
Menurut dia, masyarakat perlu memahami perbedaan sampah organik, anorganik, dan residu agar setiap jenis sampah dapat ditangani sesuai karakteristiknya.
Pemilahan sampah sejak dari sumbernya memungkinkan sampah yang masih dapat didaur ulang untuk dimanfaatkan kembali. Langkah tersebut sekaligus dapat mengurangi beban tempat pembuangan akhir dan mendorong pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Ende melalui Kepala Bidang Pengolahan Sampah Dinas Lingkungan Hidup, Fransiskus Xaverius, menyambut baik kegiatan sosialisasi dan pembinaan yang melibatkan Komisi XII DPR RI serta Kementerian Lingkungan Hidup tersebut.
Ia menegaskan, persoalan sampah membutuhkan keterlibatan semua pihak dan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah maupun pegiat lingkungan.
"Pemerintah menyambut baik karena pengolahan sampah harus dilakukan bersama, mulai dari sumber timbul hingga pembuangan akhir. Masyarakat mesti memegang peran penting untuk mengurangi sampah melalui pembentukan kelompok masyarakat di tingkat lingkungan hingga RT," katanya.
Fransiskus berharap, melalui kegiatan tersebut, kesadaran masyarakat dalam mengurangi dan memilah sampah semakin meningkat. Pembentukan kelompok pengelola sampah di tingkat masyarakat juga diharapkan menjadi langkah konkret untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Ia berharap Kabupaten Ende dapat menjadi pelopor pemilahan sampah mandiri di NTT. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya, upaya mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas sampah diharapkan dapat berjalan lebih optimal.*(WA)