Dari Turajaji Menuju Brand Kopi Ende, Gerakan Kopi Endemik Flores Digelorakan
HARIAN FLORES.COM - ENDE - Gerakan menghidupkan kembali kopi endemik Flores mulai digelorakan dari Kabupaten Ende. Salah satu langkah awal dilakukan melalui launching Taman Pembibitan Kopi Turajaji yang digelar di Pondok Coffee Mondi, Dusun Detubapa, Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Selasa (22/9/2026) siang.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda, bersama anggota DPRD Ende, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Ende, Dekopin NTT, serta puluhan perwakilan petani Kopi Turajaji dari 22 desa di Kabupaten Ende.
Launching yang digagas Istana Sehat, Ende Smart Community, Pondok Coffee Mondi, RRI Ende dan sejumlah mitra tersebut dirangkaikan dengan talk show serta persemaian ribuan bibit Kopi Turajaji di lahan Pondok Coffee Mondi.
Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda, mengatakan gerakan pembibitan dan penanaman kopi menjadi bagian penting dalam mendorong masyarakat kembali mengembangkan perkebunan kopi.
Menurutnya, semakin luas kebun kopi yang dikembangkan petani akan membuka peluang bagi peningkatan produksi sekaligus memperkuat posisi kopi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.
"Kegiatan ini kita memasyarakatkan kopi agar ada kebun kopi lagi yang lebih luas dari sekarang," kata Yosef saat talk show bersama RRI Ende.
Ia mengaku senang melihat semangat para penggagas dan petani yang mulai mengembangkan Kopi Turajaji.
Pemerintah Kabupaten Ende, kata dia, akan memberikan dukungan terhadap pengembangan kopi tersebut, mulai dari penanaman, perawatan hingga panen.
"Saya sangat senang karena Kopi Turajaji ini ditanam di Tana Watu ata Ndito. Hari ini saya senang ada kelompok tani yang kembangkan kopi ini sendirian. Ke depannya akan didukung oleh pemerintah. Kita selalu dukung petani dan pengusaha kopi," ujarnya.
Selain mendorong pengembangan Kopi Turajaji, Bupati Yosef juga menginginkan agar potensi kopi dari Kabupaten Ende diperkenalkan lebih luas melalui sebuah identitas bersama, yakni Brand Kopi Ende.
Menurutnya, Ende memiliki sejumlah jenis kopi yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan diperkenalkan ke luar daerah.
Ia mencontohkan popularitas Kopi Bajawa yang menurutnya telah memiliki identitas kuat hingga dikenal di luar Nusa Tenggara Timur.
"Saya pernah lihat di Jakarta ada Cafe Kopi Bajawa dan itu sangat ramai. Saya belum pernah lihat di Jakarta ada stand Kopi Ende," tandasnya.
Ia menyebut beberapa jenis kopi yang berkembang di Ende, di antaranya Kopi Golulada, Toba dan Turajaji. Potensi tersebut, menurutnya, dapat menjadi kekuatan apabila dikembangkan bersama dengan membawa identitas Kopi Ende.
"Saya berharap satu saat kita satukan dengan nama Kopi Ende," imbuhnya.
Sementara itu, Founder Istana Sehat sekaligus penggagas kegiatan, Ferdinandus Rega, mengatakan Kopi Turajaji merupakan kopi endemik Flores yang telah berkembang sejak ratusan tahun lalu.
Menurut Ferdinandus, Kopi Turajaji terdiri dari tiga jenis, yakni Kolombia Merah, Kolombia Kuning dan Tipika. Ketiga jenis kopi tersebut dinilai adaptif dengan lingkungan dan kondisi alam Flores.
Namun, produksi Kopi Turajaji dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan. Karena itu, kegiatan pembibitan tersebut menjadi salah satu langkah untuk membangkitkan kembali gerakan menanam kopi endemik Flores.
"Semangat Turajaji adalah semangat cinta kasih yang mengandung nilai dasar yang dibangun, yaitu saling mengajak, duduk bersama, saling mendengarkan, gotong royong dan saling menghidupi," pungkas Ferdinandus.
Ia menjelaskan program tersebut tidak berhenti pada kegiatan persemaian bibit. Setelah bibit siap, anakan Kopi Turajaji akan dibagikan kepada petani dan dilanjutkan dengan pendampingan hingga masa panen.
Pendampingan juga akan mencakup pengelolaan keuangan agar petani memiliki kemampuan mengelola hasil usaha kopinya secara lebih baik.
"Tahap ini kita semaikan dulu, baru kita bagikan anakannya kepada petani dan lanjutkan dengan pendampingan hingga panen dan pengelolaan keuangan. Kita mulai dari 50 petani. Mereka akan menjadi contoh bagi yang lain," jelasnya.
Gerakan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas kembali kebun Kopi Turajaji di Kabupaten Ende sekaligus memperkuat identitas kopi daerah melalui gagasan Brand Kopi Ende.
Dengan demikian, pengembangan kopi tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan identitas produk dan keterlibatan petani secara berkelanjutan.*(WA)