Maumere, NTT · 27 August 2026 0 online · 36 hari ini
Terbaru
Daerah

Perjuangan Nakes Puskesmas Ndona Tak Kenal Lelah Layani Korban Gempa Flores di Tenda Pengungsian

Administrator  ·   ·  20 dibaca
Perjuangan Nakes Puskesmas Ndona Tak Kenal Lelah Layani Korban Gempa Flores di Tenda Pengungsian

HarianFlores.com Ende — Gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, mungkin telah berlalu dari pusat perhatian.


Namun bagi warga yang kehilangan rumah dan masih bertahan di tenda-tenda darurat, masa pemulihan baru saja dimulai.

Hingga hari ke-12 setelah gempa utama, guncangan susulan masih terjadi. Tercatat sebanyak 7.492 kali gempa susulan mengguncang wilayah tersebut.

Rasa cemas pun belum sepenuhnya hilang. Banyak warga memilih tetap tinggal di tenda karena khawatir kembali ke rumah.

Di tengah situasi itu, pelayanan kesehatan menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda.

Persoalannya, tidak semua warga terdampak berada di lokasi yang mudah dijangkau.

Hal inilah yang dihadapi enam tenaga kesehatan Puskesmas Ndona bersama empat relawan kesehatan dari Kementerian Kesehatan yang diperbantukan.

Mereka harus menembus medan yang sulit untuk memastikan warga di pelosok tetap mendapatkan pelayanan kesehatan.

Salah satu wilayah yang mereka datangi adalah Kampung Wuna dan Kampung Dedu, Desa Kelikiku, Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende.

Koordinator Puskesmas Ndona, Seravinus Sage, mengatakan masih terdapat puluhan warga di kedua kampung tersebut yang tinggal di tenda darurat.

Di Kampung Wuna, misalnya, dua rumah warga roboh akibat gempa. Para penghuninya hingga kini belum dapat kembali ke rumah dan masih tidur di tenda.

Pelayanan ke wilayah itu bermula dari informasi yang disampaikan seorang warga.

“Di Kampung Wuna itu ada dua rumah yang roboh dan sekarang mereka masih tidur di tenda darurat. Minggu kemarin saya pelayanan di Kampung Putuga, ada salah satu warga yang datang sampaikan kalau ada waktu supaya bisa turun ke mereka punya kampung juga,” ujar Seravinus, Kamis (27/8/2026) sore.

Kebetulan, lanjut dia, saat itu Puskesmas Ndona mendapat tambahan tenaga relawan.

Kesempatan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pelayanan.

“Saya koordinasi dengan Kepala Desa untuk pelayanan kesehatan di Kampung Wuna,” katanya.

Perjalanan menuju Kampung Wuna bukan perkara mudah. Dari ruas jalan Ndona-Aekipa, tim kesehatan masih harus berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer untuk mencapai permukiman warga.

Kondisi medan menjadi tantangan tersendiri. Kendaraan roda dua memang masih dapat digunakan, tetapi tidak semua orang bisa melewati jalur tersebut dengan mudah.

“Medannya hanya bisa motor, tapi itu juga harus orang-orang dari kampung itu yang harus bawa motornya,” ungkap Seravinus.

Saat kembali dari Kampung Wuna, tim sedikit terbantu karena ada pengantaran logistik hingga kendaraan yang berada di ruas jalan.

Namun ketika berangkat menuju lokasi pelayanan, mereka harus berjalan kaki menyusuri medan sejauh kurang lebih 1,5 kilometer.

Perjalanan melelahkan itu tidak berhenti setelah pelayanan di Kampung Wuna selesai.

Setibanya kembali, warga di Kampung Dedu juga meminta agar tim memberikan pelayanan kesehatan di posko pengungsian mereka.

Bagi para tenaga kesehatan, permintaan tersebut menjadi bagian dari tugas kemanusiaan yang harus dijalankan.

Di tengah keterbatasan akses dan kondisi pascabencana yang belum sepenuhnya pulih, mereka berusaha memastikan warga tidak kehilangan hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Selama dua kali melakukan pelayanan di Desa Kelikiku, Seravinus melihat langsung kondisi warga yang masih bertahan di tenda-tenda darurat.

Beberapa dusun masih dipenuhi tenda pengungsian. Kondisi tempat tinggal sementara yang terbuka terhadap cuaca serta kepadatan warga mulai menimbulkan persoalan kesehatan baru.

“Warga beberapa dusun di desa itu masih tidur di tenda darurat dan sudah mulai terkena ISPA,” jelasnya.

ISPA menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius, terutama bagi warga yang harus tinggal berhari-hari di tenda dengan kondisi lingkungan yang terbatas.

Bagi enam tenaga kesehatan Puskesmas Ndona dan empat relawan Kementerian Kesehatan, medan terjal, jarak tempuh dan kelelahan bukan alasan untuk menghentikan pelayanan.

Setiap langkah menuju kampung-kampung yang sulit dijangkau adalah upaya untuk memastikan bahwa warga terdampak gempa tidak merasa ditinggalkan.

Di saat sebagian warga masih berjuang memulihkan rumah dan kehidupan mereka, para tenaga kesehatan pun menjalankan perjuangan mereka sendiri, berjalan menembus medan sulit, membawa perlengkapan pelayanan, dan mendatangi satu demi satu warga yang membutuhkan pertolongan.

Gempa mungkin telah menyisakan ribuan guncangan susulan, tetapi di tengah trauma dan ketidakpastian itu, langkah para tenaga kesehatan terus bergerak dari satu tenda pengungsian menuju tenda lainnya. (*)

Bagikan: